Jakarta, hariandialog.co.id.- — Presiden RI Prabowo Subianto
menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada daging dalam empat
hingga lima tahun ke depan setelah pemerintah mengklaim berhasil
mencapai swasembada beras dan jagung.
Prabowo mengklaim, berbagai capaian di sektor pangan berhasil
diraih dalam 19 bulan sejak dirinya memimpin pemerintahan pada 20
Oktober 2024 lalu. “Alhamdulillah dalam bisa dikatakan 19 bulan saya
memimpin pemerintahan dari Oktober [2024]. Alhamdulillah banyak yang
sudah kita capai,” ujar Prabowo dalam acara Panen Raya Udang di Tambak
Budidaya Udang Berbasis Kawasan, Kebumen, Sabtu (23/5).
Indonesia, sebut dia, kini telah mencapai swasembada untuk
sejumlah komoditas pangan utama, termasuk beras dan jagung. Selain
itu, produksi protein seperti telur dan ayam juga dinilai sudah
mencukupi kebutuhan nasional. “Kita sekarang sudah swasembada pangan,
sudah swasembada beras, jagung, kemudian protein kita, telur, ayam.
Daging kita masih belum, ini sedang kita kerjakan, mungkin kita 4
tahun lagi, 5 tahun lagi kita swasembada daging,” jelasnya.
Indonesia Bakal Ekspor 500 Ribu Ton Pupuk ke Australia Senilai Rp7 T
Menurut Prabowo, ketahanan pangan menjadi hal penting di tengah
meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik dan perang di
berbagai negara. Banyak negara yang dinilai kekurangan pangan dan
meminta ke Indonesia. “Pangan relatif kita aman. Di dunia banyak
sekarang pertikaian, perang di mana-mana, kita bersyukur ke Yang
Mahakuasa, kita masih tidak terlibat, tapi kita waspada,” katanya.
Selain sektor pangan, Prabowo juga menegaskan pemerintah terus
memperkuat pengelolaan sumber daya alam nasional agar tidak lagi
dikuasai pihak tertentu maupun negara asing. Oleh sebab itu, ia
memperketat kegiatan dengan membuat aturan hanya boleh dilakukan oleh
BUMN.
“Saya bertekad, saya akan berusaha sekeras tenaga saya dan
tenaga semua pembantu saya, kita akan berbuat apa saja yang diperlukan
untuk menghentikan kebocoran kekayaan rakyat Indonesia. Karena
kekayaan itu harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, tidak
hanya segelintir saja,” pungkasnya, tulis cnni. (diah-01)
