Jakarta, hariandialog.co.id.- Bank Indonesia (BI) masih melihat
adanya harapan bagi perekonomian Indonesia di tengah keadaan dunia
yang sedang dihantui ancaman resesi. Deputi Gubernur BI Dody Budi
Waluyo mengatakan, risiko lonjakan inflasi masih akan terus berlanjut.
Hal ini direspons BI dan bank sentral negara lain dengan
menaikkan suku bunga acuan. Kemudian, kenaikan suku bunga acuan ini
akan berdampak ke sektor-sektor ekonomi karena membuat bunga pinjaman
perbankan menjadi lebih mahal. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi
dunia jadi melambat. BI sendiri telah tiga kali menaikkan suku bunga
acuan sejak Agustus lalu guna menstabilkan nilai tukar dan menjaga
inflasi tetap terkendali. Kebijakan ini pun tentu akan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, dia memastikan keputusan BI menaikkan suku bunga
acuan telah dipikirkan dengan matang sehingga dampaknya ke pertumbuhan
ekonomi tidak separah negara lain. “Tapi semua dilakukan secara
terukur. Kita tidak akan menaikkan suku bunga kalau memang itu tidak
diperlukan,” ujarnya saat acara GNPIP Sulawesi Tengah, Senin
(31-10-2022).
Dengan dukungan kebijakan moneter yang terukur ini, dia
bilang, ekonomi Indonesia memiliki harapan untuk tetap tumbuh. Bahkan
jika dilihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini diperkirakan masih
akan tumbuh pada kisaran 4-5 persen. “Jadi dengan itu kita semua punya
optimisme ekonomi kita masih akan terus tumbuh di tengah-tengah negara
lain. Sekarang ini negara maju banyak yang sudah mengatakan bahwa kita
siap masuk resesi,” ucapnya seperti ditulis kompas.
Kendati demikian, di tenagh kondisi dunia yang sedang tidak
baik-baik saja ini, BI justru lebih mengkhawatirkan ekspektasi inflasi
ketimbang perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Dia menjelaskan, ekspektasi inflasi ini berasal dari inflasi yang
bersifat temporer seperti harga bahan pangan yang tinggi atau pasokan
bahan pangan berkurang. Namun bila inflasi temporer ini tidak segera
ditangani oleh BI, maka dapat membentuk ekspektasi inflasi yang dapat
terjadi dalam jangka panjang. “Masalah pertumbuhan yang melambat itu
adalah prioritas yang kedua karena masalah stabilitas itu tidak ada
kata tawar. Tidak ada pertumbuhan yang tinggi kalau itu diikuti dengan
harga yang tinggi sehingga mengurangi daya beli. Oleh karena itu
mandat BI untuk jaga inflasi ini,” jelasnya. (diah).
