Jakarta, hariandialog.co.id.- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
berhasil membukukan lonjakan laba bersih sebesar 50,11% menjadi Rp
2,28 triliun hingga kuartal III-2022. Lompatan kinerja keuangan
tersebut akan menjadi katalis positif terhadap pelaksanaan penerbitan
saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights
issue pada Desember 2022.
“Transformasi Bank BTN sejalan dengan transformasi dari
Kementerian BUMN telah membuahkan hasil yang positif. Sehingga kinerja
perseroan pada kuartal III/2022 ini semakin baik dan akan terus
berlanjut hingga akhir tahun ini,” ujar Direktur Utama Bank BTN Haru
Koesmahargyo di Jakarta, kemarin seperti ditulis investor daily.
Berdasarkan laporan keuangan BBTN, peningkatan laba didukung
pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebanyak
31,84% menjadi Rp 11,54 triliun year on year (YOY). Faktor utama
datang dari kenaikan NII adalah penurunan beban bunga sebesar 24,29%
dari Rp 9,81 triliun pada akhir September 2021 menjadi Rp 7,43 triliun
pada akhir September 2022.
Data tersebut menunjukkan bahwa biaya dana (cost of fund)
hanya sebesar 2,36% per akhir September 2022, lebih rendah dari
periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,28%. Menariknya,
penurunan biaya dana justru terjadi saat penghimpunan dana pihak
ketiga (DPK) terus meningkat dan suku bunga acuan sudah terkerek naik.
Hal ini menunjukkan BBTN memiliki likuiditas yang sangat
kuat, sehingga tidak terjebak praktik bunga deposito tinggi untuk
meraup dana dari masyarakat. Likuiditas BBTN tercermin pada loan to
deposits ratio (LDR) pada level 92,6%.
BTN juga mencatatkan peningkatan DPK sebanyak 7,41%
menjadi Rp 312,85 triliun pada Januari-September 2022. Jika dibedah
lagi, peningkatan DPK terbanyak disumbangkan produk giro yang melesat
33,57% menjadi Rp 97,88 triliun. Sementara itu, tabungan turun tipis
4,14% menjadi Rp 45,71 triliun dan deposito turun 0,61% menjadi Rp
169,26 triliun. (diah).
