Doloksanggul, hariandialog.co.id.- Para petani tomat yang ada
di tiga kabupaten seperti Humbahas, Tarutung, Samosir, menangis
tersedu-sedu mendengar kalimat dari pengepul yang menyampaikan harga
tomat Rp.1.000.- per kilogram.
Pengepul atau pedagang yang langsung kepetani tersebut
beralasan harga tomat murah hingga Rp.1.000.- per kilogram dari petani
karena banjir dari mana-mana. Sehingga, banyak tomat yang ada di
pasar, tidak laku. “Pengepul itupun sudah jarang datang dan hanya
sebulan sekali. Padahal biasanya setiap minggu bahkan dua kali
seminggu mengambil tomat hasil panen kami,” ucap seorang ibu bermarga
Marbun di Lotung, Humbahas.
Sementara itu, seorang Ibu rumah tangga yang sehari-hari
bercocok tanam tomat di daerah Hutagurgur, Tarutung, Tapanuli Utara,
juga mengeluhkan atas kerugian besar dari bertani tomat. “Bibit dan
pupuk kita beli. Tapi pas giliran sudah berbuah tinggal petik dan jual
harganya jatuh. Jadi benar-benar tidak bisa bilang apa-apa selain
pasarah ditambah utang ke Bank BRI,” katanya sambil meneteskan air
mata kerena putranya di Medan status kuliah yang harus dibiayai setiap
bulan untuk kos dan makan.
Masalah harga tomat murah sudah pernah disampaikan ke
kantor Desa, dan dirinya bersama beberapa petani mengeluhkannya ke
kantor Camat dengan harapan disampaikan kepada Bupati akan apa yang
dihadapi para petani, tidak membuahkan hasil. “Kami sudah mengadu akan
masalah harga tomat yang perkilogramnya Rp.1.000 dan bila bawa sendiri
dan jual dipasar harga perkilonya hanya Rp.2.000.- jadi tidak setimpal
pengeluaran dengan pendapatan,” cerita si Ibu bermarga Simanjuntak
itu.
Coba lihat, tomat kami bagus baik merahnya maupun
matangnya. Tapi oleh tengkulak atau pengepul hanya di hargai
Rp.1.000.- karena mereka mengatakan di jual ke pedagang di pasar per
kilogramnya Rp.1.500.- “Jadi pengepul atau tengkulak hanya untung
Rp.500 per kilogram belum lagi dipotong pengeluaran ini dan itu.
Sehingga tengkulak lebih memilih ke hasil pertanian lainnya membeli
dari petani seperti nanas maupun timun dan cabe merah,” kata petani
itu menirukan ucapan para tengkulak kalau datang mau membeli tomat.
Hal yang sama juga dialami petani tomat di Desa Sianjur
Mula-mula, Limbong, Pangururan, Samosir. “Lebih baik tomat kita busuk
di ladang daripada dipetik. Percuma dipetik dan diangkat lalu dijual
ke tengkulak. Harganya menyayat urat nadi mendengar seribu rupiah.
Jadi lebih baik busuk di pohon daripada harus dipetik. Habis waktu dan
tidak seimbang biaya pemupukan dan hasil yang akan diterima dari
penjualan tomat. Kita sudah pasrah di rumah biarkan busuk di tempat,”
katanya.
Menurut Ibu bermarga boru Nainggolan itu, paling kalau ke
ladang ambil tomat hanya buat makan dan campuran makanan ternak. “Kita
mau ngasih tetangga juga sama nasibnya yang sama – sama tanam tomat.
Jadi lebih baik busuk dan hancur di pohon. Tidak perlu dipetik dan
dilihat-lihat daripada sakit hati. Yang jelas harus minta bantuan dari
putra-putri yang ada diperantauan untuk menyambung hidup dan modal
waktu tanam di waktu mendatang,” ucapnya. (tob-01)
