Jakarta, hariandialog.co.id.- Program diskon PPnBM untuk mobil baru dinilai efektif dalam
membangkitkan industri otomotif. Kini, muncul usulan dari Menteri
Perindustrian (Menperin) bahwa PPnBM 0% akan dipermanenkan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, stimulus
Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang Ditanggung Pemerintah (PPnBM
DTP) untuk sektor kendaraan bermotor terbukti mampu memberikan dampak
signifikan pada pemulihan sektor industri otomotif. Insentif ini juga
meningkatkan kepercayaan dari pelaku industri.
“Saya memberikan penghargaan kepada pabrik otomotif dan para dealer
yang turut membantu, mendorong, memfasilitasi para pembeli untuk
mendapatkan dan memanfaatkan stimulus ini dengan tambahan promosi dan
potongan harga lainnya,” ungkap Agus dalam keterangan tertulisnya.
Melalui insentif tersebut, pada periode Maret-November 2021, penjualan
mobil terdongkrak hingga sebanyak 487 ribu unit atau naik sebesar
71,02% (year-on-year).
Program insentif PPnBM untuk mobil baru ini juga membantu memulihkan
industri pendukung. Peserta program PPnBM DTP telah memberdayakan 319
perusahaan industri komponen tier 1. Upaya ini juga telah mendorong
peningkatan kinerja industri komponen tier 2 dan 3 yang sebagian besar
termasuk kategori industri kecil dan menengah.
Agus menambahkan, dengan industri pendukung otomotif yang jumlahnya
sangat besar, Kemenperin terus melalukan pendalaman struktur
manufaktur di sektor tersebut. “Tentu agar berhasil, kita memberikan
insentif pada produsen untuk berlomba melakukan pendalaman struktur di
tanah air,” jelas Agus.
Agus menyampaikan usulan Kemenperin yaitu PPnBM 0% secara permanen
untuk produk otomotif. Syaratnya, local purchase atau komponen lokal
yang harus dipenuhi sebuah produk mobil minimal 80%.
“Pemerintah sedang mempersiapkannya secara berhati-hati dengan
memperhitungkan cost and benefit, serta menyusun time frame-nya,”
ucapnya.
Industri otomotif merupakan salah satu sektor terpenting dan sebagai
kontributor utama terhadap PDB. Saat ini terdapat 21 perusahaan
industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih dengan kapasitas
produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun. Industri otomotif itu
menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 38 ribu orang. Total investasi
yang telah tertanam mencapai Rp 140 triliun dan memberikan penghidupan
kepada 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri
otomotif.
“Saya sangat bangga, bahwa saat ini produk otomotif kita telah
berhasil diekspor ke lebih dari 80 negara. Selama Januari-Oktober 2021
tercatat sebanyak 235 ribu unit kendaraan CBU dengan nilai sebesar Rp
43 triliun, 79 ribu set CKD dengan nilai sebesar Rp1 triliun, dan 72
juta unit komponen dengan nilai sebesar Rp 24 triliun,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2025, ekspor kendaraan CBU dapat
mencapai 1 juta unit. Ini hanya bisa tercapai apabila semua pihak
berkolaborasi dalam peningkatan efisiensi produksi dan daya saing
produk melalui implementasi industri 4.0, penciptaan iklim usaha yang
kondusif melalui harmonisasi dan sinkronisasi regulasi di sektor
otomotif.
“Belajar dari pengalaman industri ini selama beberapa dekade, ada satu
hal terpenting, yaitu komitmen dari principal untuk menjadikan
Indonesia sebagai basis produksi yang berorientasi ekspor,” ujarnya.
(dtc/redstu).
