
Jakarta, hariandialog.co.id.- Pemerintah tidak serius
memberantas pengurangan isi tabung gas. Sepertinya makin lama makin
memberatkan konsumen khususnya tabung gas isi 12 kilogram. “Empat
bulan lalu isi tabung 12 Kg kita beli masih berisi 11 Kg, eh sekarang
makin para hanya 10.25 Kg,” ungkap Tobing.
Menurut Tobing, warga Jalan Siaga I-D, Pejaten Barat,
Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, keluarganya menggunakan
tabung gas yang isi 12 kilogram. “Kami kalau beli gas selalu ditimbang
terlebih dahulu tabung yang kosong 15 Kg. Kan kalau kita beli untuk
isi 12 kilo sudah pasti menjadi 27 kg,” terang Tobing.
Namun, kenyataannya yang seharus tabung gas kosong 15 kg
ditambah 12 kg sudah pasti jadi 27 kg. Tapi kenyataannya ditimbang
hanya 25,25 artinya berkurang isinya 1,75 kilogram. Padahal harga yang
dibayarkan kepada penjual Rp.220.000.-
Untuk itu, pemerintah sudah seharusnya turun tangan
melalui aparat penegak hukum seperti kepolisian atau kejaksaan guna
memeriksa setiap pangkalan penjual gas khususnya yang isi 12 Kg. “Coba
berapa banyak Masyarakat yang dirugikan. Ini pasti ada permainan
oplosan dari yang isi 3 kilogram dipindahin ke tabung isi 12 kg,”
jelas Tobing.
Tobing, juga heran, pihak Pertamina selaku penyalur
Tunggal tidak peduli akan keluhan Masyarakat aka nisi tabung gas
khususnya yang isi 12 kilogram. “Yah, sebenarnya gampang, PT
Pertaminakan mengetahui siapa saja distributor dan agen di tiap
wilayah. Cek. Bila ada satu tabung yang isinya kurang atau tidak pas
sudah pasti ada yang mengerjakan. Kan ini milik pemerintah kok ngak
tegas dan kepada para pelaku pengoplos harus ditindak tegas. Jangan
kalau ditangkap yang tukang mindahin bukan bos besarnya. Jadi tetap
akan terjadi lagi pengoplosan,” terang tobing. (bagus-01)
