Jakarta, hariandialog.co.id. Siswa kelas 2 SD berinisial MHD (9)
tewas akibat dikeroyok oleh sejumlah kakak kelasnya di Kecamatan
Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat.
Penganiayaan diduga dilakukan pada Senin (15-05-2023).
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbud Ristek) mendorong semua pihak agar memercayakan
penanganan kasus ini kepada pihak yang berwewenang. “Kami dorong semua
pihak percayakan kasus ini kepada pihak yang berwewenang, agar kasus
ini menjadi jelas dan terang bagi kita,” kata Direktur SD Kemendikbud
Ristek Dr. Muhammad Hasbi kepada Kompas.com, Selasa (23-05-2023).
Menurut dia, Kemendikbud tentunya sangat prihatin dan
menyayangkan kejadian bullying (perundungan) terhadap siswa SD yang
dilakukan oleh teman sekolahnya.
Sejak awal, kata dia, Kemendikbud Ristek sangat fokus terhadap upaya
untuk menghilangkan terjadinya 3 dosa besar di satuan pendidikan,
yakni perundungan (bullying), kekerasan seksual, dan intoleransi.
“Kami sejak awal sangat fokus menghilangkan 3 dosa besar di satuan
pendidikan, termasuk kekerasan fisik,” ucap dia.
Dia menyebut, Kemendikbud Ristek telah memiliki
Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. “Pada saat ini,
peraturan itu sedang diupayakan lebih disempurnakan,” jelas dia.
Lanjut dia menyatakan, penanganan terhadap 3 dosa besar
pendidikan telah menjadi aspek yang dievaluasi secara periodik dalam
survei lingkungan belajar yang dilaksanakan di satuan pendidikan.
MHD (9), bocah kelas 2 SD di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi,
Jawa Barat, tewas akibat dikeroyok oleh sejumlah kakak kelasnya.
Korban sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit hingga dinyatakan
meninggal pada Sabtu (20/5/2023).
Diduga ada empat rekan sekolah korban yang melakukan
penganiayaan. Pengawas Bina Kecamatan Sukaraja Dinas Pendidikan
Kabupaten Sukabumi, Ahmad Yani mengatakan, empat murid yang sedang
diperiksa tersebut didampingi orangtua dan guru sekolah. “Ada 4 nama,
nama Az itu ada di kelas dua 1 orang, kelas tiga 1 orang, kelas lima 2
orang. Sedang dilaksanakan BAP penelusuran permasalahan oleh pihak
kepolisian,” ujar dia tulis kompas.
Dia mengatakan, pihak sekolah berjanji akan kooperatif
memberikan keterangan yang sedang dilakukan oleh pihak yang berwajib.
“Tentunya kami siap berkoordinasi, dikonfirmasi dan dimintai
keterangan, bahwa kejadiannya di internal sekolah sehingga tentunya
ada beberapa siswa yang dicurigai atau pun menjadi bahan,” ungkap dia.
(dika)
