
Jakarta, hariandalog.co.id.- Para kaum ibu rumah tangga berteriak “Mana Pemerintah”. Semua menjelang bulan suci ramadhan pada naik harganya. “Cukup mahal. Kita menyambut bulan suci ramadhan tapi
harus dihantui kehabisan uang belanja,” kata Rizka warga Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Rizka menyebutkan, kenaikan harga sembako menyambut bulan puasa, sangat merugikan kaum ibu rumah tangga yang harus belanja buat kebutuhan baik sahur maupun untuk berbuka. “Cukup mengerikan
kenaikannya. Coba saja telur ayam negeri per kilogram sudah Rp.34 ribu yang biasanya Rp.26 ribu. Coba dalam seminggu naiknya Rp.6.000.-. Ini masih menyambut awal ramadhan bagiamana nantinya di hari Lebaran,”
jelasnya kepada wartawan.
Paling pedihnya adalah harga cabe rawit atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Cabe Setan” sudah diharga Rp.120 per kilogram. “Cabe memang sangat dibutuhkan untuk makanan, tapi masih bisa dihemat yang biasa buat nyambal 20 hingga 25 buji bisa dihemat menjadi 10 biji. Yang penting ada rasa pedasnya walau sedikit,” terangnya dan mengherankan jajaran pemerintah tidak peduli akan kenaikan harga-harga.
Pitta warga Pondok Labu, Jakarta Selatan yang ditemui saat belanja di Pasar Pondok Labu hampir batal masak daging rendang. “Coba harga daging per kilonya sudah Rp.180 ribu yang biasanya hanya
Rp.120 ribu. Yah, namanya buat rendang tidak dan harus menggunakan santan kelapa dan inipun naik dari harga biasa antara Rp.10 hingga Rp.12 ribu sekarang harus mengeluarkan Rp.22 ribu satu butir kelapa
sudah jadi santan. Jadi sepertinya pemerintah membiarkan warga masyarakat di cekik harga – harga kebutuhan,” katanya yang sehari-hari guna menambah pendapatan harus paroh baya jadi tukang cuci.
Sementara Tuty warga Jambul, Cawang, usai belanja di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, juga menyebutkan “Pemerintah Tidak Peduli. Harga-harga naik dan tidak peduli kepada rakyat kecil.
Buktinya semua naik tidak ada tindakan. Jadi terkait kenaikan harga-harga saya pribadi sudah anti pati pembelaan pemerintah untuk kesejahteraan rakyatnya,” tuturnya.
Tuty yang berprofesi sebagai bagian dari PPSU Keluruhan Cililitan, Jakarta Timur, sangat sedih dengan kenaikan harga-harga. “Saya bekerja untuk keluarga dengan anak tiga orang yang masih duduk di sekolah SD dan SMP, harus berhadapan dengan harga-harga mahal. Pendapatan sudah jelas tapi pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga tidak jelas. Jadi tidak ada tanggungjawab pemerintah akan perlindungan harga-harga,” akunya dengan nada sedih. (zak-01)
