Jakarta, hariandialog.co.id.- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)
bersuara keras soal kenaikan harga sejumlah bahan pokok, mulai dari
beras, jagung, hingga bawang putih.
Suara keras mereka sampaikan karena pemerintah pusat dan pemerintah
daerah rutin menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah
secara virtual setiap Senin. Rapat virtual yang dipimpin Kemendagri
ini menghadirkan sejumlah stakeholder terkait, termasuk Badan Pusat
Statistik (BPS).
Biasanya, rakor dipimpin langsung Mendagri Muhammad Tito Karnavian.
Kali ini, Inspektur Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir yang memimpin
rapat, mewakili Mendagri Tito.
Meski sudah sering rapat, tapi kata Tomsi, kenaikan harga bahan pokok
tetap saja terjadi.
“Saya berharap kita bisa lebih fokus lagi, gak usah panjang-panjang,
kita tahu sudah penyakitnya apa. (Harga) beras naik, jagung naik,
tepung naik, bawang putih naik, nanti ada beberapa kenaikan lagi yang
disampaikan Bu Pudji (Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS
Pudji Ismartini),” ucap Tomsi saat membuka rakor, dikutip dari YouTube
Kemendagri, Senin (19/2).
“Teman-teman dari kementerian/lembaga (K/L) tidak perlu beradu data,
datanya kan mirip-mirip saja. Sekarang, bagaimana jalan keluarnya?
Kalau kita berteori terus, sementara di luar harga naik terus,
kemudian setiap Senin kita rapat gak ada perubahan, ya gak ada artinya
gitu loh!” tegasnya kepada para peserta rakor.
Tomsi menegaskan seharusnya rakor rutin ini menghasilkan suatu
keputusan yang sama-sama diamini oleh seluruh stakeholder terkait. Ada
dua output yang diharapkan Kemendagri.
Pertama, hasil rakor bisa disampaikan kepada masing-masing pimpinan
K/L. Kedua, hasil kesepakatan rakor dilaksanakan di lapangan sehingga
harga bahan pokok dan inflasi bisa dikendalikan.
“Ada hal-hal masukan dan saran dari peserta rapat tentu yang baik kita
kembangkan untuk kita laksanakan. Harapan saya, kita fokus di situ,
kalau slide panjang panjang panjang, selesai kita jam 11 siang. Tapi,
di luar harga tetap naik, gak ada guna! Tolong dipilah-pilah datanya
yang operasional, yang bisa kita laksanakan,” tutup Tomsi tulis cnni.
Apa yang disampaikan Kemendagri tidak keliru. Sejumlah bahan pokok
memang mengalami lonjakan harga belakangan ini, misalnya beras.
Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS),
harga beras di semua provinsi di Indonesia kompak naik. Baik kualitas
bawah, medium, maupun beras super.
Misalnya, beras kualitas bawah I naik Rp200 atau 1,42 persen ke
Rp14.250 per kg dan beras kualitas medium I meroket Rp200 alias 1,31
persen menjadi Rp15.500 per kg. Sedangkan beras kualitas super I kini
dibanderol Rp16.850 per kg, ini naik Rp200 atau 1,2 persen.
Bahkan, di lapangan beras terpantau langka. Kelangkaan beras terjadi
di sejumlah toko ritel modern menjelang pencoblosan Pemilu 2024 hingga
sekarang. (red-01)
