
Jakarta, hariandialog.co.id.- Harga bahan kebutuhan sehari-hari
yang harus dan pasti ada di dapur sebagai bahan untuk lauk pauk di
rumah tangga, sebagian masih dihargai tinggi. Tidak jelas apa yang
menyebabkan harganya mahal dan melebihi harga yang ditentukan oleh
pemerintah.
Informasih dari Pasar Pasar Minggu yang selama ini dikenal
pasar 24 jam atau tidak ada hentinya, didapati berberapa jenis bahan
pangan harganya tinggi. Telor ayam negeri atau disebutnya juga telur
ayam ras per kilonya sudah Rp.36 ribu. Padahal, minggu lalu dihari
yang sama Selasa, masih Rp.32 ribu per kilogram.

Begitu juga harga daging masih sama seperti di harga saat
lebaran. Para pedagang daging melabel per kilonya Rp.150 ribu dan
sementara tulang iga juga masih tinggi di harga Rp110 ribu Dimana
sebelum lebaran diharga Rp.90 ribu. Artinya kenaikan per kilogram
Rp.20 hingga Rp.30 ribu bagi kaum ibu sudah sangat berat.
Sementara harga bawang merah dan bawang putih masih
dianggap normal. Per kilgramnya bawang putuh Rp.45 ribu dan bawang
merah asal Brebes, Jawa Tengah di harga Rp50 ribu per kilogramnya.
“Bawang masih normal,” kata para pedagang, kemarin pagi, 21 April
2026.
Untuk jabe rawit merah atau yang lebih dikenal dengan
sebutan cabe setan masih tinggi di harga Rp.80 ribu. Padahal, bisanya
hanya Rp.60 ribu dan terkadang bisa Rp.50 ribu. Para pedagang tidak
bisa berbuat banyak terkait harga. Padahal, mereka belanja di Pasar
Induk Kramat Jati dan terkadang ke Pasar Induk Cibitung.
Terkait harga cabe tinggi dipertanyakan, karena terus
terang disebut bahwa cabe tidak termasuk bahan yang diturut sertakan
oleh BGN sebagai peserta bahan makanan bergizi gratis (MBG). Tapi,
terkait telur ayam bisa juga karena sering diborong para pengusaha
SPPBG. (horas-01)
