Jakarta, hariandialog.co.id.- Kementerian Keuangan (Kemenkeu)
menyebut kinerja ekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan negara
G20 dan negara berkembang lainnya. Purbaya Yudhi Sadewa Menteri
Keuangan mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia ditopang pertumbuhan
yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang
terjaga.
Ketahanan juga diklaim didukung Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara(APBN) sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli
masyarakat, dengan tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas
defisit tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia akan
mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan
peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN.
“Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan
meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi. Jadi ke depannya,
pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga akan lebih
produktif dan berkelanjutan serta menjadi lebih terdiversifikasi dan
tangguh,” ujar Menkeu pada seminar bertajuk ”Supporting Economic
Recovery in Middle-Income Countries: Alignment of Higher Productivity
and Quality Jobs Creation, Amid High Indebtedness” di Washington, DC,
Amerika Serikat.
Disebutkan negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki
kekhawatiran utama terkait ketidakseimbangan eksternal terletak pada
potensi risiko, termasuk volatilitas arus modal, tekanan inflasi, dan
dampak spillover dari sistem keuangan global. Perang di Timur Tengah
telah menjadi ujian berat bagi ketahanan pasar negara berkembang.
Di tengah perang yang mentransmisikan guncangan melalui harga energi,
biaya pengiriman, dan volatilitas mata uang ke wilayah Indonesia.
Menkeu mengeklaim stabilitas makro Indonesia tetap terjaga
dibandingkan dengan banyak negara lain yang menghadapi tekanan yang
sama.
“Meski Indonesia mencatat arus keluar devisa sebesar USD1,8 miliar dan
depresiasi rupiah, namun defisit fiskal Indonesia tetap di bawah tiga
persen dan cadangan devisa tetap memadai, yang membuktikan bahwa
kredibilitas makro-finansial berfungsi di saat yang paling penting,
termasuk dalam memperkuat ketahanan energi,” ujarnya pada keterangan
persnya, Selasa (21/4/2026), tulis dbs/Surabaya. (diah-01)
