Jakarta, hariandialog.co.id.- Penipuan dan mencuri uang
masyarakat melalui kiriman undangan sudah marak. Instansi terkait yang
dapat menghentikan tindak pidana tersebut seperti Kepolisian,
Kementerian Komunikasi dan Informasi serta pemilik atau pengelola
selular, serta Bank, diam saja.
Korban sudah dipastikan banyak. Namun, tidak jelas mau
mengadu kemana guna penyelesaiannya serta harus berbuat bagaimana.
Tidak ada ceritanya pemerintah untuk menghalangi atau sekalian
menghentikan perbuatan orang yang tidak bertanggungjawab.
Seperti yang dialami James Tobing yang punya
handphone dengan nomor milik perusahaan selular Telkomsel, menjadi
korban penipuan dan pencurian dana alias uang. Kejadiannya pada Jumat,
16 Februari 2024, sekitar pukul 16.00, mendapat undangan dari salah
satu organisasi yang sedang melangsungkan acara ulang tahun.
“Saya terkesima dan merasa bersyukur karena mendapat
undangan. Yah, acara puncak antara hari Minggu dan Senin di salah satu
hotel di Ancol, Jakarta Utara. Sekilas saya membaca di whatsapp alias
WA, dan pengirimnya menggunakan nomor dan logo organisasi. Semula
curiga dengan himbauan selama ini agar berhati-hati membuka link wa
atas undangan. Karena ada sedikit kesibukan, saya menyuruh putraku
untuk menghapus tapi salah pencet menjadi terbuka,” terang James
Tobing saat menceritakan apa yang dialami.
Merasa sudah terperangkap dengan kiriman WA dari
organisasi yang ternyata bukan alias hanya membuat akun seolah-olah
dari admin. “Saya langsung blokir nomor tersebut dan ternyata sudah
langsung tersambung. Syukur tidak punya SMS banking dan lain
sebagainya terkait fitur uang elektronik. Karena ada acara keluarga
maka diputuskan pengurusan ke Telkomsel pada hari Minggu karena Sabtu
full kegiatan,” jelas Tobing.
Minggu, 18 Februari 2024, James Tobing mendatangi
Graha Telkomsel di pusat pertokoan PGC Cililitan, Jakarta Timur, siang
hari. Dengan keramahan pihak Telkomsel mempertanyakan keperluan dan
setelah diceritakan secara singkat, wanita berjilbab melayani dan
membuka akses. “Maaf nomor Bapak sudah terkena dengan ulah hakker yang
mengatasnamakan undangan acara. Pulsa Bapak sudah tersedot oleh pelaku
penipuan dan mencuri dana sebanyak 600 ribu rupiah lebih,” ucap
pelayan.
Sang petugas conter meja 4 itu menyarankan agar HP di
restart pabrik. Karena HP merek Samsung dan langsung diarahkan ke
graynya di lantai PGC. “Yah paling satu minggu waktunya di restar,”
kata sang pelayan, sambil mengarakan agar sesegera mungkin ke graha
Samsung.
Setelah laporan diterima oleh pihak Samsung dibuatkan
tanda terima dan disarankan menunggu 45 menit untuk di service kembali
agar seperti baru beli. Setelah selesai, diarahkan kembali ke Graha
Telkomsel untuk ganti kartu. Takut kartu yang lama bisa di sedot lagi
data-datanya.
Di Graha Telkomsel di lantai 3-A PGC nomor disuruh
pilih dan dibebani untuk membeli yang baru dengan harga Rp.199.000,-
karena pilihan. Selesai dari pukul 14.00 baru selesai urusan pukul
19.00.
“Kita capek mondar mandir mengurus urusan karena ulah sang penipu dan
pencuri melalui undangan WA. Bahkan, harus mengeluarkan uang bayar
kartu baru ditambah lagi tagihan untuk bulan berikutnya sebanyak
Rp.800 ribu. Jadi benar-benar ditipu, uang dicuri alias di bobol,”
terang Tobing.
Kejadian yang dialami oleh James Tobing, sepertinya
tidak ada upaya dari pemerintah untuk menghentikan perbuatan penipuan,
pencurian dan bahkan pembobolan uang di bank. Buktinya, pihak
Kepolisian yang bisa menangkap pelaku, tidak berbuat. Begitu,
Kementerian Komunikasi dan Informasi yang punya wewenang penuh atas
sinyal atau satelit tidak berbuat. Hal yang sama dari pihak Bank tidak
mau mencari pekerjaan melaporkan pelaku serta pihak pemilik selular
seharusnya bisa menghentikan. (tob)
