Jakarta, hariandialog.co.id.- Badan Narkotika Nasional (BNN)
mengungkapkan sebanyak 312 ribu anak usia remaja mulai dari 15 hingga
25 tahun di Indonesia terpapar Narkotika. Sementara data 2023, angka
prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,73 persen atau setara
3,33 juta orang.
Demikian disampaikan Kepala BNN Komisaris Jenderal Polisi Marthinus
Hukom saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu, 9 Agustus 2025
Marthinus mengatakan, terdapat berbagai faktor yang dapat mendorong
seseorang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika, baik dari aspek
internal maupun eksternal. “Faktor dominan yang kerap menjadi pemicu
pertama kali seseorang menyalahgunakan narkotika, antara lain ajakan
atau bujukan teman, dorongan ingin mencoba hal baru, serta lingkungan
yang rawan terhadap penyalahgunaan narkotika,” ujar dia.
Ia mengatakan, Presiden RI dan Wakil Presiden RI mencanangkan
visi dan misi pembangunan Indonesia yang dituangkan dalam program
Astacita, salah satunya dengan memperkuat pencegahan dan pemberantasan
narkotika di Indonesia.
Dengan demikian, dirinya menilai Presiden dan Wakil Presiden
melihat ada sesuatu yang sangat kritis dan darurat dalam berbagai isu
narkoba.
Sebelumnya BNN mencatat jumlah pecandu narkoba di Indonesia
telah mencapai 3,3 juta jiwa. Angka tersebut bukan sekadar statistik,
melainkan mencerminkan sebuah fenomena sosial yang membahayakan
ketahanan bangsa.
Kepala BNN Komjen Marthinus Hukom mengatakan, angka itu dihitung
dengan berbagai asumsi ekonomi, maka perputaran uang dari peredaran
narkoba di Indonesia ditaksir hampir mencapai Rp500 triliun per tahun.
Jumlah tersebut, kata dia, termasuk biaya negara untuk
membiayai narapidana pengguna narkoba yang jumlahnya lebih dari 200
ribu orang. “Sebanyak 52 persen penghuni lapas kita adalah
penyalahguna narkoba. Negara membiayai kejahatan, sementara masyarakat
menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang sia-sia,” ujar Kepala BNN.
Lebih lanjut, Kepala BNN juga mengungkapkan bahwa sekitar 90
persen narkoba yang masuk ke Indonesia diselundupkan melalui jalur
pantai. Ia menyebut wilayah selatan Jawa Barat sebagai salah satu
titik rawan penyelundupan, tulis inilah.cm. (rojak-01)
