
Majalengka, hariandialog.co.id- Warga di sejumlah wilayah Kecamatan Kasokandel, tepatnya di Sawala, kadipaten, hingga perumahan Kasokandel, kembali mengeluhkan buruknya pelayanan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Majalengka.
Pasalnya, setiap kali turun hujan deras, aliran air PDAM ke rumah warga mendadak berhenti. Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga hari terakhir. Kalaupun air keluar, debitnya sangat keci “hanya ngeclak sagede buntut berita,” keluh seorang warga Sawala kepada Harian Dialog, Selasa (11/11)
Warga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, hingga memasak. Sebagian bahkan terpaksa mengambil air dari sumur bor milik tetangga. “Harusnya PDAM cepat tanggap, jangan nunggu pelanggan ngeluh dulu. Kita ini bayar tepat waktu, tapi pelayanan seperti ini jelas mengecewakan,” ujar salah satu warga Dawuan dengan nada kesal.
Keluhan juga datang dari pemilik warung nasi dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada pasokan air bersih. “Air PDAM kalau musim hujan malah mati total. Padahal kalau kita telat bayar, langsung didenda bahkan diputus. Ini tidak adil. Harusnya pelayanan diperbaiki dulu baru tagih kewajiban pelanggan,” ujar seorang pedagang di kawasan Kasokandel.
Menurut warga, kondisi serupa bukan baru terjadi kali ini. Gangguan aliran air sudah berulang kali dialami, terutama setiap memasuki musim penghujan. “Bukan sehari dua hari, ini sudah sering. Tolong PDAM jangan hanya pintar menagih, tapi juga peka terhadap keluhan pelanggan,” tegas warga lain.
Sementara itu, Direktur PDAM Kabupaten Majalengka,Hj.Elina Lukitasati.SE melalui bagian umum Nunung, ketika dikonfirmasi Harian Dialog melalui pesan singkat, mengakui adanya gangguan pada sistem pengolahan air. Ia menjelaskan, penyebab utama tersendatnya distribusi air adalah faktor alam yang tidak bisa dihindari.
“Saat hujan besar, kondisi air di Sungai Cilitung meluap dan membawa lumpur serta sampah. Akibatnya, pompa produksi kami sering terendam dan harus diangkat ke posisi lebih tinggi agar tidak tertutup lumpur,” jelas Nunung.
Ia juga mengungkapkan bahwa setiap kali terjadi banjir, tim PDAM di lapangan harus turun langsung untuk membersihkan lumpur dan sampah yang menyumbat mesin. “Upaya ini penuh risiko dan bahkan membahayakan nyawa petugas. Tapi kami tetap berusaha agar distribusi air ke pelanggan bisa segera normal,” tambahnya.
Sebagai langkah sementara, PDAM Majalengka menyiagakan mobil tangki air untuk mengirimkan pasokan ke rumah-rumah warga sesuai permintaan dari ketua RT dan cabang setempat.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan yang dirasakan pelanggan. PDAM berkomitmen terus memperbaiki sistem agar gangguan serupa bisa diminimalisir,” tutup Nunung.
Meski begitu, warga berharap PDAM tidak hanya mengandalkan alasan cuaca dan faktor alam semata. Mereka menuntut adanya penanganan cepat, transparansi, dan tanggung jawab yang seimbang antara hak dan kewajiban pelanggan. “Kami bukan minta gratis, cuma minta adil dan pelayanan yang layak,” kata seorang warga menutup pembicaraan. (Ayub)
