Jakarta, hariandialog.co.id.- Setelah pemerintah melalui
Satgas Pangan Polri menetapkan 28 tersangka kasus beras premium
oplosan, harga beras melambung tinggi. Bahkan, dengan kenaikan harga
beras di pengecer pasar tradisional mencipakan kelaparan lagi.
Memang, harga beras naik dan bahkan ada beberapa merek
beras seperti Anak Kembar, Idola dan lain-lain sudah tidak ada di
pasar. “Beras sudah kami pesan ke Pasar Induk Cipinang, tapi tidak ada
alias kosong. Jadi tidak ada yang mau kami jual,” kata pedagang beras
di Pasar Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pedagang yang mengaku sudah berjualan beras turun temurun
sejak orang tuanya di Pasar Pasar Minggu, sangat tidak enak sekang ini
situasinya. “Harga beras naik. Bukan hanya naik saja tapi merek
tertentu tidak ada. Kan Masyarakat kita sudah terbiasa dengan
kebiasaan masak dan makan asal beras tertentu. Sudah naik beras
kebiasaan keluarga tidak ada,” kata pedagang beras keturanan Tionghoa
itu.
Disebutkan, harga beras untuk ukuran 10 kilo naiknya 15
ribu rupiah dan timbangan 20 kilogram kenaikannya 20 ribu. “Coba
sebelumnya harga beras merek Idola yang 20 kilogram bulan lalu Rp.350
ribu dan sekarang sudah Rp.380 ribu. Jadi bukan hanya Masyarakat saja
yang susah dibuat kenaikan harga beras sekarang ini tapi kami juga
para pedagang mencerit. Mau tidak mau modal bertambah untuk bisa beli
beras 50 karung kecil dan 50 karung besar ukuran 50 kilogram,” kata
sang sumber.
Diakui kelangkaan beras turun ke pasar untuk dijual para
pengecer terasa setelah adanya Razia beras oplosan. “Kami di pasar
hanya menjual dan sudah ada di dalam karung. Jadi kami tidak tau
apakah beras yang kami beli dan jual Kembali itu di oplos atau tidak.
Namun, imbas setelah di tangkapnya para pengusaha beras di pasar induk
para pedagang di pasar terkena imbasnya.
Akibat kenaikan harga beras seperti di Jakarta, sudah
mulai muncul keluhan tidak bisa makan karena bahan untuk makanan
mahal. “Saya minta beras semangkok untuk masak bareng anak anak.
Semangkokpun sudah cukuplah untuk satu hari. Nanti dimasak agak lembek
biar banyakan. Yah, suami sakit-sakitan dan uang belanja hanya pas
pasan dan harus beli obat lagi,” ungkap Ilay nama samara warga Pejaten
Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Menurut Ilay, ada uang sedikit harus dibagi-bagi buat
kebutuhan selama sebulan. Dengan kebaikan para tetangga saya dan anak
anak masih bisa makan nasi. “Terus terang saya sudah tidak malu lagi
untuk minta beras guna masak. Yah, tetanggalah dimintai. Kalau ada
yang ngasih lima liter bisa buat seminggu Bersama dua orang anak,”
terang sang wanita yang mencoba membantu suami dengan antar jemput
anak tetangga sekolah.
Sementara itu, agen beras termasuk besar karena para
pedagang di sekitar Pasar Minggu berbelanja ke toko beras di Jalan
Pejaten Raya. “Kami sejak ada kabar beras oplosan dan pelakunya
ditangkap, sudah tidak jual beras ukuran kecil 20 dan 10 kilogram.
Dari Cipinang sudah tidak ada. Padahal, kami pesan beras, bayar
terlebih dahulu baru dikirm. Jadi tidak ada istilah untuk kepada agen
besar di Pasar Induk Cipinang,” kata seorang Wanita pelayan di loket
pemesanan beras.
Wanita asal Jawa Tengah itu menceritakan terkait harga
beras naik dan malah langka alias kosong bukan hanya di toko beras di
Pejaten tapi juga di tempat lain. “Boskan ada di beberapa tempat usaha
seperti ini. Semua sama tidak jual beras ukuran sepuluh dan dua puluh
kilogram. Kita hanya menjual beras ukuran karung 50 kilogram,”
jelasnya. (tim-01)
