Jakarta, hariandialog.co.id – Masyarakat Indonesia saat ini diguncangkan kenaikan harga-harga. Para ibu rumah tangga disibukkan dengan uang bulanan terbatas sementara harga-harga naiknya tidak ketulungan. “Kami para kaum ibu rumah tangga sudah tidak bisa ngomong apa lagi. Pendapatan atau gaji suami sudah tetap, sementara harga-harga sudah naik melambung tinggi,” kata Ibu Diah.
Lusi warga Jagakarsa mengaku harus mengurangi pemakaian listrik di rumah agar bisa menambahi uang belanja dari pembayaran listrik. “Saya dan mungkin juga para kaum ibu harus banting pola pikir untuk bisa bertahan hidup dengan penghasilan suami yang pas dan pas. Kita tidak mungkin meminta tambah dengan gaji yang setiap bulannya sudah tidak bisa dinaikkan lagi jumlahnya. Yah, terpaksa suami ikut nongkrong di pangkalan ojek demi tambahan buat belanja. Semua ini keadaan terpaksa,” tuturnya.
Harga-harga naik bukan kepalang tingginya, bukan hanya kaum ibu rumah tangga yang dipusingkan tapi juga para pedagang makanan masak seperti warung tegal (Warteg), rumah makan apa saja sudah menjerit dan saling garuk kepala. Pasalnya, harga beras naiknya bukan tanggung-tanggung. “Sebulan lalu masih Rp.670 ribu per karung. Eh naik dan naik terus hingga sekarang kita belanja sudah Rp.800 ribu, bagaimana ini,” katanya dengan nada bertanya sedikit pusing.
Bukan hanya beras yang naik tapi jug cabai rawit merah alias cabai jablai. “Dua minggu yang lalu masih diharga Rp.30 ribu dan paling naik menjadi Rp.40 ribu. Sekarang sudah Rp.90 ribu per kilogram. Begitu juga gula putih bulan lalu masih Rp.14 ribu sekarang Rp.18 ribu dan belinya dibatasi hanya boleh dua kilogram. Jadi kami pedagang warung makan sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Makanan dinaikin tidak ada yang makan dan bertahan bisa mampus besok ngak bisa belanja lagi,” terang para pedagang warteg di seputar Jalan Raya Pasar Minggu, Jalan Raya Margasatwa dan Pondok Labu.
Minyak goreng per 2 liter dari harga 30 ribu juga naik menjadi 33 tibu dan tidak jelas apa alasannya. Telur ayam negeri alias ayam ras juga naik dari yang biasa Rp.26 ribu sekarang sudah menjadi Rp.30 ribu. “Jadi kami pedang kecil ini tidak tahu bagaimana mensubsidikan harga bahan pangan dagangan. Semuanya naik dan naik. Nasi harus dengan beras, dan makanan agar ada bumbunya harus ada cabai. Begitu juga dagang makanan harus ada telur karena selama ini tidak sanggup makan dengan ikan atau daging sudah pasti memilih lauk dengan telur baik mata sapi, bulat maupun sambal,” aku seorang pedangan nasi di jajaran Pasar Senin, Jakarta Pusat.
Para pedagang beras yang ditemui di Pasar Minggu, dan Pasar PTSP juga Pasar Pondok Labu semuanya di wilayah Jakarta Selatan semuanya menjerit. “Sekarang kejam pedagang di Pasar Induk Cipinang. Sudah harga naik dan menjadi mahal, harus kontan. Tidak seperti hari biasanya diberi kelonggaran satu dua hari bahkan bisa seminggu utang baru bayar. Sekarang ada uang baru beras dikirim. Jadi kejam. Kita pedagang mau tidak mau ambil uang utangan di tetangga. Kalau di bank prosesnya lama dan kalau di Pinjol itu namanya bunuh diri karena bunga dan lain sebagainya,” terang Udin, Kok Opui, Idang dan Mamik kesemuanya pedagang beras.
Beberapa pedagang khususnya di Pasar Pasar Minggu, Jakarta Selatan, meminta agar pemerintah membubarkan Kementerian Pertanian. “Bubarkan saja. Semua ada direktorat yang membidangi bahan pangan seperti padi menjadi beras, cabe, ayam. Kementerian Pertanian semuanya lengkap dan anggaran dananya cukup tinggi. Apa saja kerjanya. Sawah ditanam hingga padinya tua lalu digiling semuanya di bawah bendera Kementerian Pertanian, begitu juga terkait unggas, juga akan gula. Kok naik, apa saja kerja mereka. Jadi lebih baik dibubarkan,” jelasnya.
Kementerian Pertanian bukan hanya di Pusat atau Jakarta saja ada di daerah di bawah kendali dan pengendalian Dinas Pertanian. “Jadi kalau beras langka dan mahal menjadi tanda tanya apa saja yang dikerjakan. Tiap-tiap daerah pasti ada lahan Dinas Pertanian tapi apa yang ditanam. Bahkan, hutanpun bisa dijadikan lahan pertanian seperti dulu ada transmigrasi yang tujuan mulianya menjadikan swasembada pangan Indonesia tapi sekarang apa dan mana,” terang pedagang yang putranya ada di Kementerian Pertanian dan sering di antar jemput sehingga tahu ada Direktorat-Direktorat di Kementerian.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyindir 97 kabupaten/kota yang tampak ‘terlena’ euforia Pemilu 2024 sehingga tak memperhatikan harga pangan.
Inspektur Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan pada minggu ketiga Februari 2024 ini terjadi sejumlah kenaikan harga bahan pokok. Ada kenaikan harga cabai merah di 230 daerah, minyak goreng di 203 kabupaten/kota, serta telur ayam ras di 182 daerah.
Data yang diungkap Tomsi didapat dari informasi para pejabat masing-masing daerah yang dilaporkan secara harian setiap pekan. Lalu, didiskusikan setiap Senin dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah. (red-01)
